Never give up!

Seberapa sering kita mengeluh dalam hidup? Sering.

Wajar, karena kita adalah manusia biasa, yang bisa merasakan capek dan seringkali kita ingin menyerah dan pasrah begitu saja dengan keadaan saat ini. Seberapa banyak dari kita yang menyerah saat sesuatu hampir selesai kita kerjakan? Hanya karena satu dan lain hal, yang kecil, membuat mental kita jatuh, dan semuanya gagal. Semuanya musnah..

Kita juga tidak tahu betapa dekatnya kita dengan keberhasilan saat kita gagal. Ya memang tidak mudah. Apalagi saat kegagalan menerpa diri kita, seringkali kita ingin berhenti saja. Menyerah saja. Sudah gagal, ngapain dicoba lagi? Toh nanti gagal lagi.

Kata-kata itu sering terlintas di pikiran saya sendiri. Rasanya kalau udah banyak masalah yang datang dalam hidup, otak kecil ini terus saja mengiangkan kata “Just give up and don’t try again.” Tidak mudah menghilangkan kebiasaan ini, sampai sekarang. Saya juga pernah merasa bahwa saya tidak mampu, saya tidak bisa, dan segala racun-racun negatif itu datang dengan begitu cepatnya.

Ada begitu banyak orang-orang yang bisa dijadikan panutan. Teman-teman, keluarga, ataupun mereka yang tidak kita kenal. Satu dari mereka akan terus mencoba dan mencoba lagi. Saya ingat ada satu guru saya pernah berkata, “Jika kamu gagal, berbahagialah. Karena jatah kegagalanmu sudah hampir habis. Coba lagi.” “Sampai kapan?” “Sampai kamu berhasil!” jawabnya dengan begitu tegas.

Beliau benar. Saat kita gagal, saat kita bersedih, kita boleh capek. Kita boleh marah, kita boleh menangis. Tapi JANGAN PERNAH MENYERAH! Karena kalau kita menyerah, kita KALAH!

Never give up
Never give up
Share

Learn from Mistakes

I believe, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan, baik secara sadar maupun tidak. Karena manusia, jadi wajarlah melakukan kesalahan. Kesalahan itu sendiri adalah relatif, sama dengan kebaikan. Salah dan benar menurut satu orang belum tentu sama dengan orang yang lainnya.

Tapi kalau menurut saya, definisi kesalahan adalah suatu perbuatan yang kita lakukan, yang kemudian merugikan orang lain dan berdampak negatif kepada orang atau makhluk lain. Bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri. So, bisakah manusia terlepas dari kesalahan? Menurut saya, TIDAK AKAN PERNAH BISA!

Selama kita hidup, kita pasti selalu melakukan kesalahan. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan belajar juga dari kesalahan orang lain. Belajar untuk memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.

Karena kesalahan, kita belajar. Karena kesalahan, kita bisa mengevaluasi diri. Karena kesalahan, kita mempunyai kesempatan untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi.

Yes! 🙂

Share

“Kejam” terhadap diri sendiri

Jika engkau keras terhadap kehidupan, maka kehidupan akan lunak kepadamu. Namun, jika engkau lunak kepada kehidupan, maka kehidupan akan keras kepadamu. ~ pepatah

“Bukannya sebaiknya kita mencintai dan menyayangi diri kita sendiri?” tanya saya kepada salah satu kenalan saya.

“Ya benar, memang sepatutnya kita menyayangi dan mencintai diri kita sendiri, tapi bukan berarti kita jadi memanjakan diri. Bermalas-malasan dan tidak disiplin,” jawabnya.

“Terkadang, kita perlu kejam terhadap diri sendiri. Disiplin terhadap diri sendiri. Tertib terhadap diri sendiri. Memegang komitmen yang sudah kita buat, dan berusaha mati-matian untuk mencapai tujuan yang kita inginkan dalam hidup,” lanjutnya.

“Kejam terhadap diri sendiri artinya juga mendisiplinkan diri dan secara konsisten membuat peraturan untuk diri sendiri. Misalnya setiap pagi bangun jam 6 pagi. Ya kalau udah di-set seperti itu harus disiplin. Setiap pagi, gimanapun caranya, apapun ceritanya, tetap harus bangun jam 6 pagi. Kejam? Ya!” dia menegaskan.

“Agar bisa mencapai kesuksesan dalam hidup, kita harus “kejam” terhadap diri sendiri. Gagal? Coba lagi! Bukannya sibuk mengasihani diri sendiri. Sewaktu kita mengasihani diri sendiri dan tidak mau berusaha, kita sesungguhnya sudah gagal!” beliau kembali melanjutkan.

“Jadi intinya sebelum tujuan kita tercapai, kita memang harus kejam terhadap diri sendiri dan mendisiplinkan diri ya Pak?” saya kemudian bertanya.

“Iya. Tapi perlu diingat kalau disiplin diri itu memang merupakan suatu keharusan dan harus dibiasakan. Jangan dikit-dikit malas, dikit-dikit nyerah, dikit-dikit pasrah dan gak mau usaha. Selagi mampu, hajarr aja. Jangan mudah kasihan dengan diri sendiri. Gitu loh..” jelasnya sambil tertawa.

Saya mengangguk-anggukkan kepala lalu kembali menyeruput secangkir kopi panas di atas meja. Slurpp!

—–

Silahkan bagikan tulisan ini kepada teman-teman Anda yang membutuhkan dan semoga bermanfaat! 🙂

 

Share

Apa itu Bahagia?

Bagi sales, dapat orderan itulah kebahagiaan.

Bagi orang miskin, uang itulah kebahagiaan.

Bagi orang sakit, kesehatan itulah kebahagiaan.

Bagi yang single, pasangan hidup itulah kebahagiaan.

Bagi mahasiswa, gelar sarjana itulah kebahagiaan.

Bagi pengangguran, mendapatkan pekerjaan itulah kebahagiaan.

Bagi yang kebanyakan bekerja, liburan itulah kebahagiaan.

Bagi orang tua dan anak, berbakti itulah kebahagiaan.

Bagi orang lumpuh, bisa berjalan itulah kebahagiaan.

Bagi ibu-ibu kaya, shopping itulah kebahagiaan.

Bagi politikus, jabatan itulah kebahagiaan.

Bagi selebritis, popularitas itulah kebahagiaan.

Semua orang punya definisi kebahagiaan namun sedikit sekali yang mengatakan hidup dengan kasih sayang dan rasa syukur itulah kebahagiaan.

Kebahagiaan-kebahagiaan di atas sebenarnya bukanlah kebahagiaan, lebih tepat adalah kesenangan, kepuasan, dan kegembiraan yang singkat dan sementara.

Hanya kasih sayang dan rasa syukur yang mendatangkan sukacita, kedamaian, dan keceriaan.

Hanya kasih sayang dan rasa syukur yang mendatangkan kebahagiaan sejati dalam hidup.

Tersenyumlah hari ini. Tersenyumlah untuk menyambut cinta yang akan datang di dalam hidupmu.

Share the Love! 🙂

Share